Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam artikel yang lalu ada 3 cakupan keputusasaan. Untuk lebih jelasnya silahkan klick disini

Tidak ada orang yang anti-putus asa. Bayangkan, Siti Hajar saja sebetulnya dalam bahasa sekarang bisa dikatakan mau putus asa. Beberapa doa Nabi Muhammad SAW saat menghadapi berbagai rintangan di Mekkah juga bisa ditangkap sebagai ungkapan yang mengkhawatirkan munculnya keputusasaan. Putus asa itu sebetulnya manusiawi, dan belum tentu jelek efeknya.

Dalam hal ini, penyebab keputusasaan terbagi dalam dua kelompok.

Kelompok pertama, orang yang putus asa karena reaksi sesaat. Misalnya, seseorang tiba-tiba terkena masalah besar, gagal besar, atau menghadapi rintangan yang besar. Saat itu, secara manusiawinya, dia wajar untuk putus asa.

Jika keputusasaan itu ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membangun kebersamaan dengan Tuhan (ma’iyyatullah), berefleksi, dan lain-lain, seperti seorang jagoan putus asa setelah kalah lalu berlatih keras, ya putus asa semacam ini ada manfaatnya.

Kelompok kedua, putus asa karena tradisi, bawaan, karakter personal, atau putus asa yang diakibatkan oleh kebiasaan buruk, berpikir negatif, perasaan negatif, keyakinan lemah, dan tindakannya tidak ada.

Ini yang sangat berbahaya. Agama, ilmu pengetahuan, dan akal sehat semua manusia melarang putus asa yang demikian.

Keputusasaan yang demikian, lahir dari tiga tahapan.

Pertama, gaya hidup yang kurang bersyukur (lawan dari kufur), atau dissatisfaction.

Kedua, gairah untuk berprestasi lemah, tidak ada target, tidak ada cita-cita, tidak ada semangat untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik, atau demotivation.

Ketiga, keputusasaan yang disebabkan karena tidak merasa bahagia, tidak merasa berdaya, tidak yakin, tidak mau melakukan, atau discourage/despair.

Karena awalnya berasal dari jiwa yang kurang bersyukur, makanya perintah untuk membersihkan jiwa dari berbagai kotoran negatif itu disebutnya perintah mutlak, kapan saja, setiap saat, di mana saja, dan seterusnya. Qad aflaha man zakkaahaa, dan seterusnya.

Kita juga diperintahkan untuk membaca subhanallaah, yang mengandung makna bahwa Allah itu bersih dari berbagai tuduhan negatif yang kita munculkan dari jiwa.

Nah, bagaimana menurut pandangan sobat dalam hal ini?

Terimakasih

Tetap Semangat
Sukses Selalu
Wassalamu’alaikum

Share on Facebook

Related Post