Kemanfaatan dalam memanaj umur itu harus dapat dirasakan oleh dirinya sendiri dan manusia seluruhnya. Secara pribadi, seseorang disuruh menjaga diri dan keluarga dari siksaan api neraka: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Itu berarti, seseorang harus menjadi baik atau shalih. “Nah, kalau ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, maka harus menjadi muslih. Jadi, orang yang shalih itu, orangnya baik untuk pribadinya, untuk anaknya baik, untuk keluarganya baik. Tapi, belum menyentuh kepada masyarakat.

Sedangkan kalau dia muslih, dirinya sudah baik dan dia bermanfaat untuk orang lain, memperbaiki orang lain. Oleh karena itu, yang dituntut oleh Allah adalah kita menjadi orang shalih dulu, yaitu menjadi orang yang rajin ibadah, orang yang dapat bekerja, orang yang rajin di rumahnya, tapi itu manfaatnya bisa untuk tetangga.

Oleh karena itu, setiap orang yang hendak memanfaatkan umurnya dengan kebaikan-kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain, sebenarnya tidak perlu kebaikan-kebaikannya itu bersifat besar.

Tapi, Islam sudah mempunyai banyak contoh perbuatan baik yang kelihatannya sepele tapi kemanfaatannya cukup besar bagi orang banyak. Misalnya, orang di RT kita ada yang paling mulia, dan itu belum tentu apakah itu ustadznya atau orang kayanya, semuanya belum tentu bisa.

Sebab, petugas kebersihan masjid pun bisa menjadi orang yang paling mulia di hadapan Allah SWT, lantaran dia selalu berpikir tentang kebersihan masjid, yang banyak bermanfaatnya untuk orang lain.

Jadi, sekarang berusaha umur banyak itu banyak digunakan untuk kemanfaatan orang lain. Sekarang bagaimana kita sampaikan kepada semua orang, Islam kita itu bisa dinikmati oleh orang lain, umur kita itu umur yang bermanfaat untuk orang lain.

Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada yang lain”.

Contoh perbuatan sepele yang manfaatnya besar bagi orang banyak. Misalnya, orang yang paling miskin di kampung, sebenarnya selain dia dituntut bekerja untuk keluarganya, dia juga bisa memberi manfaat untuk orang lain, yaitu umpamanya dia bisa menyingkirkan paku di tengah jalan.

Nah, itu adalah manfaat yang diberikan orang miskin, dan itu bisa masuk surga. ”Jadi, artinya, manfaat untuk orang lain itu lebih diutamakan daripada manfaat untuk diri sendiri, tapi bukan seperti lilin, yang hanya bisa menerangi orang lain, tapi dirinya sendiri terbakar.

Tidak begitu, tapi sekali pun kita miskin nggak punya apa-apa, kita nggak bisa membiarkan saja orang buta menyeberang. Itulah orang yang paling bermanfaat (anfauhum linnas). Jadi, tidak harus menunjuk dia orang kaya baru memberikan bantuan orang lain.

Bagaimana pendapat sobat dalam hal ini?
Terimakasih

Share on Facebook

Random Posts