6 Faktor Pendukung Pendidikan anak
ByMembicarakan Faktor Pendukung Pendidikan Anak memang banyak macamnya. Setelah 5 Faktor Pendukung Pendidikan Anak beberapa waktu lalu. Kali ini kita bahas 6 Faktor Pendukung Pendidikan Anak berikutnya:
1. Menanamkan keimanan dan akidah yang benar dalam jiwa anak.
Di antara kewajiban (bahkan ini hal yang wajib atas orang tua) adalah benar-benar bersemangat menjaga perkara keimanan serta akidah ini dengan penuh perhatian.
Misalnya, mengajari anak-anak semenjak kecil untuk mengucapkan dan menyatakan dua kalimat syahadat, serta menumbuhkan dalam hati mereka rasa cinta kepada Allah.
Juga mengajarkan bahwa segala nikmat yang ada pada kita adalah dari Allah semata. Diajari pula mereka bahwa Allah ada di atas langit, Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, serta masalah-masalah akidah lainnya. Ketika mereka telah beranjak dewasa, diarahkan pula untuk membaca kitab-kitab akidah yang sesuai bagi mereka.
2. Menanamkan nilai-nilai yang terpuji dan perangai yang mulia dalam jiwa anak.
Hendaknya para orang tua memiliki semangat untuk mendidik mereka di atas ketakwaan, kesantunan, kejujuran, amanah, penjagaan kehormatan diri, kesabaran, kebajikan, menyambung hubungan, berjihad, dan berilmu. Dengan demikian, mereka tumbuh dewasa dalam keadaan cinta dengan keberanian dan cinta terhadap akhlak yang mulia.
3. Menjauhkan dan menanamkan celaan dalam jiwa mereka terhadap akhlak yang rendah.
Hendaknya para orang tua menanamkan kebencian dalam diri mereka terhadap kedustaan, hasad, dendam, ghibah, naminah, mengambil hak orang lain, durhaka terhadap orang tua, memutuskan hubungan kekerabatan, pengecut, kesewenang-wenangan, dan akhlak rendah lainnya.
Mereka pun tumbuh dalam keadaan benci dan menjauhi itu semua.
4. Mengajarkan dan melatih mereka dengan perkara-perkara yang baik.
Misalnya, mendoakan orang yang bersin, menutup mulut ketika menguap, makan dengan tangan kanan, adab-adab menunaikan hajat, adab-adab mengucapkan dan membalas salam, adab menjawab telepon, menyambut tamu, bercakap yang baik dan sopan, dan sebagainya.
Jika sejak kecil anak terlatih dengan adab dan akhlak serta hal-hal terpuji lainnya, dia pun akan mengakrabinya hingga akhirnya menjadi sifatnya. Selama dia menerima pengajaran dan bimbingan semasa kanak-kanaknya, dia pun tumbuh dewasa dengan apa yang dibiasakan kepadanya.
Sebagaimana dikatakan, “Tumbuhnya pemuda itu di atas apa yang dibiasakan ayahnya.” dan perkataan, “Dahan pohon akan lurus jika engkau luruskan, namun sebatang kayu takkan bisa lunak bila kau luruskan.” Serta juga, “Orang yang kau didik di masa kecilnya, bak batang pohon yang terus disirami saat ditanam, hingga kau lihat tumbuh dedaunannya, setelah dulu dia hanya sesuatu yang kerontang.”
5. Selalu berusaha menggunakan ungkapan yang baik ketika berbicara dengan anak dan menghindari angkapan yang jelek dan tercela.
Di antara perkara yang harus dijaga oleh orang tua adalah selalu berusaha menggunakan ungkapan yang baik dan dapat diterima. Juga tidak memandang dengan tajam ketika berbicara kepada anak, serta menjaga diri dari mencela, mencaci, menggerutu, ataupun mengatakan ucapan-ucapan jelek dan kotor lainnya.
Misalnya, apabila orang tua merasa kagum dengan perbuatan si anak, hendaknya ia mengatakan, “Masya Allah.” Apabila melihat anak yang tampak bersemangat maka ucapkanlah, “Subhanallah, Allahu Akbar.” Apabila si anak berbuat baik, dikatakan kepadanya, “Barakallahu fiik, ahsantum (semoga Allah memberkahimu, engkau telah berbuat baik).”
jika anak berbuat kesalahan, dikatakan kepadanya, “Jangan, wahai anakku!” atau “Tidak demikian!” Masih banyak lagi ungkapan baik yang lainnya. Anak pun akan akrab dengan ungkapan seperti ini, sehingga terjaga lisannya dari cercaan dan ucapan keji.
6. Membentengi mereka dengan zikir-zikir yang syar’i.
Ini bisa dilakukan dengan memperdengarkan bacaan zikir itu pada mereka jika mereka masih kecil, menyuruh mereka menghafalnya jika mereka telah berusia mumayyiz, serta menerangkan keutamaan dan membiasakan mereka agar terus-menerus melakukannya.
Semoga Bermanfaat
Terimakasih
[...] This post was mentioned on Twitter by Syaifuddin H, Syaifuddin H. Syaifuddin H said: New post…6 Faktor Pendukung Pendidikan anak http://bit.ly/hjEe2y [...]
Artikel wajib nih bagi para orang tua…. Banyak juga orang tua yang tidak begitu perduli terhadap perkembangan anaknya. Mereka sering berpikir jika telah memberikan uang maka persoalan langsung beres. Ada juga orang tua yang secara tidak sadar menumbuhkan nilai-nilai yang tidak baik terhadap anak, contohnya merokok, mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas (makian) didepan anak-anak.
Udin Hamd Reply:
December 9th, 2010 at 05:20
@eser, Dengan kata lain ada ungkapan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sifat anak mencerminkan sifat dari orang tuanya…walaupun tidak 100 %.
Saya dapat ilmu lagi… alhamdulillah…
Udin Hamd Reply:
December 9th, 2010 at 05:22
@Asop, Alhamdulillah.
Trims sudah berkunjung bang
salam kna mas
kunjungi balik ya
Udin Hamd Reply:
December 11th, 2010 at 05:32
@romi, Salam kenal juga. :2shakehand Insya Allah..
nomor 1 itu tuh yang paling penting…..
Udin Hamd Reply:
December 10th, 2010 at 05:41
@Octa Dwinanda, Kadar keimanan memang sangatlah penting untuk dipupuk semenjak usia dini.
Semoga kedepannya,generasi Indonesia menjadi generasi yang tangguh dan mampu bersaing dengan bangsa lain…

Udin Hamd Reply:
December 11th, 2010 at 05:33
@andry sianipar, amin…
Faktor pendidikan anak-anak ya??
ehm… faktor lingkungan, sekolahan, n keluarga,
Jk 3 tu maksimal, pasti baik deh anaknya
Udin Hamd Reply:
December 11th, 2010 at 05:35
@ismail, Betul mas. Itu secara garis besarnya…
sebagai orang tua yang kebetulan anak baru 1 dan masih 2 tahun kayaknya harus sering-sering baca artikel bergizi seperti ini. thank mas
Udin Hamd Reply:
December 11th, 2010 at 23:32
@andi sakab, Sama-sama
sebagai orang tua yang baru punya anak satu dan masih umur 2 tahun kayaknya saya harus sering baca2 artikel bergizi seperti ini. terima kasih mas.
Udin Hamd Reply:
December 11th, 2010 at 23:43
@andi sakab, dobel komen
andi sakab Reply:
December 11th, 2010 at 23:48
@Udin Hamd,
maafkan saya. engga tahu kok bisa dobbel ya? 